Jumat, 13 Mei 2011

Metodologi Penelitian Kualitatif

Contoh Tugas Proposal Kualitatif:

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bahasa memungkinkan manusia untuk saling berkomunikasi, saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual Bahasa berperanan penting dalam perkembangan pikiran seseorang. Peranan itu terutama ialah meningkatkan berkembangnya pikiran abstrak dan konseptual, serta membentuk dan mendorong perkembangan pikiran, bernalar dan sistematis.1
Peran bahasa yang sangat fundamental dan subtansial inilah, maka bahasa termasuk bahasa Indonesia terus dipelajari, dikembangkan dan diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal. Bahasa Indonesia dipergunakan sebagai bahasa pengantar dari Taman Kanan-kanak sampai Perguruan Tinggi. Bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa pengantar resmi dalam dunia pendidikan untuk semua jenis dan tingkat sekolah di seluruh Indonesia.
Pada semua lembaga sekolah di Indonesia termasuk di SMP, bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar. Hal ini sesuai dengan salah satu fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa Negara. Dalam UUD 1945 bab XV pasal 36 dikatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga sekolah.2
Sesuai dengan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara, maka fungsi mata pelajaran bahasa Indonesia dan sastra Indonesia adalah (1) sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, (2) sarana peningkatan pengetahuan dan ketrampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, (3) sarana peningkatan pengetahuan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, (4) sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah, dan (5) sarana pengembangan penalaran.3
Selain itu menurut Halim bahasa Indonesia mengemban fungsi dan kedudukan sebagai berikut: (1) bahasa pemersatu suku bangsa, (2) lambang kebangsaan dan identitas nasional, (3) alat perhubungan antar budaya dan antar daerah, sedangkan dalam kedudukannya sebagai bahasa resmi Negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai : (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) alat perhubungan pada tingkat nasional, (3) bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, (4) alat pengembangan kebudayaan, ilmu dan teknologi.4
Agar kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia tersebut semakin kokoh dan fungsi Indonesia semakin mampu dipergunakan sebagai sarana berkomunikasi dan berpikir ilmiah, maka bahasa Indonesia perlu dibina dan dikembangkan.
Sementara itu, dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 3 tahun 2003 menyebutkan dengan tegas Tujuan Pembelajaran Umum Bahasa dan Sastra Indonesia, yaitu (1) agar siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa Negara, (2) siswa memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, fungsi, serta menggunakannya dengan tepat untuk berbagai tujuan, keperluan, dan keadaan, (3) siswa memiliki kemampuan intelektual (berpikir kreatif, menggunakan akal sehat, menerapkan pengetahuan yang berguna, dan memecahkan masalah), kematangan emosional dan social, (4) siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang penting bagi para siswa dalam rangka meningkatkan kemampuan berbahasa juga berfungsi dalam menyerap dan mempelajari bidang-bidang ilmu lain, sehingga diharapkan dengan kemampuan pada bahasa Indonesia dapat lebih menguasai ilmu pengetahuan lain.
Kemampuan berbahasa Indonesia merupakan syarat bagi siswa sekolah lanjutan tingkat pertama untuk dapat memahami bahan pelajaran dengan baik. Menyadari pentingnya kemampuan berbahasa Indonesia. Pendekatan itu diharapkan dapat memberi peluang lebih luas kepada siswa untuk lebih aktif mempelajari bahasa Indonesia yang benar-benar mereka perlukan, baik untuk pengembangan diri, peningkatan kemampuan penalaran, maupun kematangan emosional dan social.
Tujuan akhir pembelajaran bahasa Indonesia tiap pelajaran bukanlah penyelesaian materi, tetapi penguasaan materi bahasa Indonesia dalam wujud kemampuan pemahaman wacana bahasa Indonesia dan kemampuan penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan keperluannya.
Pembelajaran bahasa Indonesia membentuk sikap disiplin penggunaan bahasa dan disiplin pemahaman bahasa Indonesia. Disiplin berbahasa menggambarkan disiplin berpikir. Oleh karena materi yang dipelajari selayaknya mengarah kepada pembentukan sikap disiplin berbahasa, baik dalam wujud kebahasaan, pemahaman, maupun penggunaan bahasa Indonesia.
Banyak dikeluhkan oleh para ahli di bidang pendidikan tentang rendahnya kualitas belajar, khususnya rendahnya nilai hasil belajar bahasa Indonesia. Apalagi bila ditilik selayaknya nilai hasil belajar bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar dan bahasa komunikasi sehari-hari, akan tetapi kenyataannya berbeda, hasil belajar berbahasa Indonesia termasuk mata pelajaran yang kurang memuaskan.
Keterampilan berbahasa Indonesia di kalangan tamatan sekolah dasar dan sekolah lanjutan, ternyata belum memenuhi syarat minimum bagi penggunaan bahasa Indonesia baik kepentingan pendiidkan tinggi maupun untuk kepentingan komunikasi di kalangan masyarakat.5
Sementara di sisi lain pada saat ini pelajaran bahasa Indonesia dianggap kurang menarik bagi siswa-siswa dan dianggap pelajaran yang dianggap kurang penting, oleh karena itu guru bahasa Indonesia dituntut mengajar lebih baik lagi, sehingga siswa diharapkan dapat menyenangi pelajaran bahasa Indonesia. Masalah lain yang menjadi kendala bagi keberhasilan pelajaran bahasa Indonesia adalah kekurangan minat baca siswa. Walaupun berbagai upaya telah dilaksanakan, baik dari pihak sekolah atau pemerintah dalam pembinaan minat baca siswa, namun masih dirasakan perlu ditumbuhkan dan dikembangkan terus.
Tuntutan terhadap guru, khususnya guru bahasa Indonesia untuk membina dan mengembangkan minat baca siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia merupakan hal yang perlu mendapat perhatian besar, hal ini sisebabkan pelajaran bahasa Indonesia merupakan bahasa komunikasi dan sekaligus sebagai bahasa Nasional.
Kemerosotan hasil belajar termasuk hasil belajar bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagaimana banyak dikeluhkan, tentu terkait dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Kenyataan ini perlu mendapat perhatian, sebenarnya apa yang menjadi pokok permasalahannya faktor-faktor apakah yang sesungguhnya mempengaruhi hasil belajar bahasa Indonesia.
Hasil belajar siswa merupakan tolok ukur penting keberhasilan siswa dalam belajar. Keberhasilan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor. Faktor tersebut dapat disebabkan oleh pendekatan yang diterapkan kurang tepat, guru kurang mampu memilih metode, sikap guru terhadap pembelajaran kurang positif, kemampuan siswa, minat, kemampuan guru sangat terbatas dalam memilih materi yang sesuai untuk siswa yang diajarkan dan sebagainya.
Pada dasarnya hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor tersebut dapat dibedakan atas faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang (internal) dan faktor-faktor dari luar diri seseorang (eksternal). Faktor internal adalah konsep diri, minat, IQ, motivasi, kreatifitas, kebutuhan berprestasi dan sikap. Faktor-faktor eksternal misalnya metode mengajar, media pengajaran, lingkungan dan suasana kelas, keadaan teman dan guru serta lingkungan keluarga.
Faktor internal dan faktor eksternal berperan dalam kegiatan belajar perlu sekali diketahui sehingga dapat dilakukan perbaikan dan peningkatan kualitas dan kuantitas dapat berlangsung secara efektif dan efisien dan akhirnya dapat diperoleh hasil belajar yang diharapkan.
Perkembangan ilmu bahasa juga memegang peranan yang penting dalam kehidupan. Hal ini harus disadari terutama oleh para guru bahasa, sebagai seorang pendidik harus memahami bahwa tujuan akhir pengajaran bahasa ialah para siswa mempunyai kemampuan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Dengan demikian, dalam menghadapi kemajuan dan perkembangan zaman peserta didik tidak menghadapi kesulitan. “Ilmu bahasa juga mempunyai fungsi beraneka ragam di antaranya berfungsi sebagai media pembuka saluran komunikasi.

B. Fokus Penelitian
Mengingat banyaknya masalah yang muncul dan luasnya cakupan pembahasan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, maka peneliti membatasi diri agar penelitian lebih terfokus hanya pada masalah, bagaimana strategi pembelajaran bahasa Indonesia aktif di SMP Negeri 189 Jakarta dan faktor-faktor yang memengaruhinya?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui lebih mendalam strategi pembelajaran bahasa Indonesia aktif di SMP Negeri 189 Jakarta dan faktor-faktor yang memengaruhinya.

D. Manfaat Penelitian
Temuan dalam penelitian ini diharapkan berguna untuk mencarikan jawaban tentang bagamana strategi pembelajaran bahasa Indonesia aktif di SMP Negeri 189 Jakarta dan faktor-faktor yang memengaruhinya.
Selain itu, bagi sekolah dapat dijadikan masukan dalam pengambilan keputusan agar pengembangan rencana strategis jangka menengah dan jangka panjang lebih terarah.
Bagi peneliti menambah wawasan pengetahuan khususnya dalam strategi pembelajaran bahasa Indonesia aktif di SMP Negeri 189 Jakarta dan faktor-faktor yang memengaruhinya.
Bagi peneliti lain dapat dijadikan landasan pemikiran untuk penelitian lanjutan pada bidang yang sama.













BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Pembelajaran
Menurut Sadiman, belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup. Sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya.1 Belajar itu selalu menunjukkan suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu.2 Belajar sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.3
Sedangkan Surakhmad berpendapat bahwa belajar adalah mengalami yang berarti menghayati sesuatu sktual. Penghayatan tersebut akan menimbulkan respon tertentu dari siswa. Penghayatan yang didapat dari belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dari pematangan, pendewasaan, pola tingkah laku, sistem nilai, perbendaharaan pengertian (konsep-konsep) serta informasi. 4
Sementara Soedijarto menyatakan bahwa proses belajar adalah proses yang dialami secara langsung dan aktif oleh pelajar pada saat mengikuti suatu kegiatan belajar mengajar yang direncanakan dan disajikan di sekolah, baik yterjadi di kelas maupun di luar kelas.5 Adapun Seels mengemukakan bahwa belajar ditandai oleh adanya perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap, dimana perubahan itu merupakan ciri dari pengetahuan (Instruksional).620 Lebih lanjut Seels memberikan batasan belajar sebagai perubahan pengetahuan atau tingkah laku seseorang individu yang relative permanent yang terjadi melalui pengalamannya.7 Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Cronbach, bahwa belajar ditunjukkan oleh adanya perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. 8
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, pada dasarnya belajar adalah perubahan pengetahuan atau tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti yang terjadi pada diri si pembelajar atau siswa, sehingga ada peningkatan kemampuannya. Kemampuan tersebut tidak terbatas pada kemampuan yang sifatnya sederhana, akan tetapi dapat berupa kemampuan yang komplek, sesuai dengan cara berpikir dari si pebelajar atau siswa.
Witherington menyatakan belajar adalah perubahan dalam diri seseorang, perubahan ini dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan, suatu kebiasaan, suatu sikap, suatu pengertian, sebagai pengetahuan atau apresiasi (penerimaan dan atau penghargaan).923 Pembelajaran terutama adalah siswa telah melewati suatu urutan materi yang dapat menambah pengetahuan siswa berupa perubahan dan pemindahan pengetahuan.1024
Crow & Crow mengemukakan bahwa belajar adalah proses aktif yang membutuhkan dorongan dan bimbingan sesuai dengan hasil yang diinginkan.1125 Lebih lanjut ia mengatakan belajar adalah didapat dari kebiasaan, pengetahuan dan sikap.1226 Sedangkan Gagne menyatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam disposisi (watak) atau kapasitas (kemampuan) manusia yang berlangsung selama suatu jangka waktu dan tidak sekedar menganggapnya proses pertumbuhan.13279
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut pada dasarnya seseorang dikatakan telah mengalami peristiwa belajar jika ia mengalami perubahan dalam diri seseorang, perubahan ini dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan, suatu kebiasaan, suatu sikap, suatu pengertian, sebagai pengetahuan atau perubahan dari tidak tahu menjadi tahu.
Peristiwa belajar tersebut dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa, sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa. Kedua faktor tersebut berhubungan erat dengan hasil belajar siswa. Sebagaimana yang digambarkan oleh Gagne and Briggs sebagai berikut:

FAKTOR- FAKTOR EXTERNAL

Kedekatan Pengulangan Penguatan
(Susun kondisi (susun ke-
sementara) mungkinan)



Informasi Keterampilan Strategi
Factual intelektual (mengak-
(menyajikan (menggunakan tifkan diri
pengetahuan pengetahuan dr latihan
sebelumnya) sebelumnya) sebelumnya)


FAKTOR-FAKTOR INTERNAL


Gambar 1: Faktor Eksternal dan Faktor Internal yang
Mempengaruhi Peristiwa Belajar1428
Gagne and Briggs berpendapat ada dua faktor yang terlibat dalam peristiwa belajar, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Peristiwa belajar terjadi sebagai interaksi dari faktor-faktor eksternal dan internal. Kedua faktor tersebut berhubungan erat dengan hasil belajar yang diperoleh siswa baik dari sekolah maupun dari luar sekolah.
Faktor internal yaitu kemampuan yang telah ada sebelumnya yang telah dimiliki siswa termasuk persepsinya terhadap sesuatu. Faktor internal meliputi informasi faktual, keterampilan intelektual dan strategi.
Informasi factual atau pengetahuan tentang fakta dapat berupa pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya, yang menjawab pertanyaan antara lain seperti apa, merupakan faktor yang perlu di kuasai siswa untuk meraih berbagai jenis kemampuan belajar. Termasuk dalam kategori ini isi pelajaran, fakta, nama-nama, deskripsi, tanggal, tempat dan ciri-ciri.
Keterampilan intelektual yaitu kemampuan menggunakan kemampuan yang telah dipelajari sebelumnya untuk memecahkan masalah, yang menjawab pertanyaan bagaimana. Sedangkan strategi merupakan proses internal yang digunakan siswa untuk memilih dan mengolah cara untuk memperhatikan, belajar, mengingat, berpikir dan memecahkan masalah.
Faktor eksternal yaitu faktor yang berada di luar diri siswa. Faktor ini mempengaruhi proses belajar, karena merupakan prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam proses belajar. Faktor eksternal terdiri dari kedekatan (contiguity), pengulangan (repetition) dan penguatan (reinforcement). Prinsip kedekatan yang menyatakan bahwa stimulus diberikan kepada siswa haruslah dimunculkan pada waktu berdampingan dengan respon yang dikehendaki, sedangkan pengulangan diperlukan karena hasil belajar akan bertambah apabila stimulus dan respon diulang-ulang, dengan seringnya suatu informasi diulang akan sulit untuk dilupakan dan bertahan lama. Penguatan penting untuk mempertahankan siswa untuk terus belajar, penguatan dilakukan dengan jalan memberikan penghargaan (reward). Reward ini bisa berupa pujian terhadap hasil belajar yang dicapainya, sehingga dengan reward tersebut dapat meningkatkan minat maupun motivasi belajarnya.
Keberhasilan belajar dapat diketahui dalam bentuk hasil belajar yang diperlihatkan setelah mereka menempuh pengalaman belajar. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.1529 Reigeluth mengemukakan bahwa hasil belajar adalah suatu perbuatan yang tampak sitandai adanya kemampuan khusus dari suatu kecakapan. Hasil belajar biasanya dibagi dalam beberapa tujuan.1630 Pendapat tersebut menjelaskan bahwa hasil belajar merupakan suatu ukuran perubahan tingkah laku yang biasa dinilai dengan standar kebaikan hasil yang dicapai.
Hasil belajar merupakan suatu pernyataan tentang apa yang dapat dilakukan siswa atau yang diketahuinya pada akhir proses belajarnya.1731 Pendapat senada dikemukakan Hasan dan Wahab, bahwa hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya.1832 Kegiatan yang dimaksud disini terutama kegiatan yang terjadi di sekolah walaupun hasil belajar dapat pula diperoleh dari kegiatan yang tidak deprogram di sekolah.
Hasil belajar dapat dihubungkan dengan terjadinya suatu perubahan dalam kecenderungan seseorang atau kecakapan atau kepandaian, yang dalam proses pertimbangannya cukup rumit. Terjadinya antara sebelum dan sesudah situasi belajar dengan semacam perlakuan atau latihan tertentu.
Hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa atau faktor internal dan faktor yang berasal dari luar diri siswa atau faktor eksternal. Adapun faktor internal meliputi: (1) Faktor Fisiologis (jasmani) diantaranya adalah kondisi fisiologis umum dan kondisi panca indera. (2) Faktor Psikologis; antara lain minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif. Faktor eksternal meliputi faktor lingkungan, faktor instrumental, yaitu berupa kurikulum, program, sarana dan fasilitas serta guru.19 33
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Indikator yang menunjukkan kemampuan sebagai hasil belajar itu bermacam-macam dari yang paling sederhana sampai paling kompleks. Kemampuan siswa merupakan perubahan tingkah laku. Sebagai bukti maka hasil belajar dapat diklasifikasikan kedalam dimensi-dimensi atau kategori-kategori tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Gagne yang mengemukakan bahwa kompetensi dan kapabilitas sebagai bukti nyata hasil belajar dapat di bedakan kedalam lima kategori yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap dan keterampilan motorik.
1) Informasi Verbal yaitu pengungkapan informasi yang disimpan dapat berupa fakta atau label dengan cara menyatakan atau mengkomunikasikan informasi. Informasi verbal mencakup kemampuan: mengingat kata demi kata, meringkas, yaitu berupa hasil belajar yang berupa informasi dan pengetahuan prinsip dan generalisasi informasi yang merupakan esensi suatu peristiwa yang dapat dijadikan alat berpikir dan sebagai dasar untuk belajar lebih lanjut.
2) Keterampilan Intelektual yaitu kecakapan yang membuat seseorang berkompeten yang memungkinkan untuk menanggapi konseptualisasi lingkungannya. Ketrampilan intelektual ini merupakan operasi mental yang memungkinkan merespon terhadap lingkungan sehingga memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungannya melalui penggunaan symbol-simbol atau gagasan-gagasan. Keterampilan intelektual berkaitan dengan pengetahuan “bagaimana” melakukan suatu aktivitas. Penekanan hasil belajar jenis ini terletak pada masalah “bagaimana” bukan “apa”. Ada empat sub kategori hasil belajar yang berupa keterampilan intelektual ini yang disusun secara bertahap dari yang paling sederhana ke yang lebih kompleks. Keempat sub ketrampilan intelektual tersebut adalah sebagai berikut: (a) membedakan (discrimination), yaitu kemampuan siswa untuk membedakan benda-benda atau symbol-simbol, (b) konsep (concept), yaitu kemampuan siswa untuk mendefinisikan dan mempergunakan dengan benar konsep-konsep tentang sesuatu hal, (c) aturan (rules), yaitu kemampuan yang memungkinkan siswa berbuat sesuatu dengan menggunakan symbol-simbol dan dapat mengikuti aturan itu dalam penampilannya, (d) aturan tingkat tinggi (higher order rules) merupakan gabungan dari keterampilan-keterampilan sebelumnya yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Penguasaan tahap yang lebih sederhana menjadi prasarat penguasaan keterampilan tingkat yang diatasnya yang lebih kompleks. Misalnya membedakan warna, menghitung luas dan sebagainya.
3) Strategi Kognitif ialah proses pengontrolan yang mengatur berpikir dan belajar pada diri pebelajar. Berupa kecakapan khusus yang sangat penting yang memungkinkan siswa dapat belajar dan menentukan sesuatu secara sendiri. strategi kognitif merupakan suatu proses internal yang digunakan siswa untuk memilih dan mengubah cara-cara memberikan perhatian, belajar, mengingat dan berpikir yang merupakan kemampuan yang mengatur seseorang untuk memilih “cara” untuk mengelola belajar.
4) Sikap yaitu kemampuan seseorang untuk memilih perilaku tertentu atau kesiapan dan kesediaan seseorang untuk menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek itu, apakah berarti atau tidak bagi dirinya. Sikap tersebut merupakan pembawaan yang dapat dipelajari dan dapat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap benda-benda, kejadian-kejadian, atau makhluk-makhluk hidup lainnya. Hasil belajar sikap nampak dalam bentuk kemampuan, minat, perhatian, perubahan perasaan dan lain-lain.
5) Keterampilan motorik yaitu kemampuan dalam melakukan serangkaian gerakan fisik sehingga dapat mendemonstrasikan serangkaian gerakan fisik atau tindakan. Keterampilan motorik ini mencakup kemampuan seseorang untuk mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot atau kesanggupan menggunakan gerakan anggota badan sehingga memiliki rangkaian urutan gerakan yang teratur, luwes, tepat, cepat dan lancer. Keterampilan ini tidak hanya mencakup kegiatan fisik, melainkan juga kegiatan motorik yang digabung dengan keterampilan intelektual, misalnya manulis, memainkan alat musik dan sebagainya.20 34
Adapun Bloom membuat klasifikasi hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.21 35 Hasil belajar ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang meliputi pengetahuan dan kemampuan intelektual seseorang. Ranah kognitif terdiri dari enam tingkatan, yaitu ingatan atau pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sistesis dan evaluasi. Sedangkan ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Jangkauan tujuan afektif lebih bersifat kesadaran melalui penerimaandan kecondongan terhadap nilai-nilai. Ranah afektif terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, pemberian respons, penilaian, pengorganisasian dan karakteristik nilai.
Ranah psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang menyangkut gerakan otot. Dalam ranah psikomotor terdapat enam aspek hasil belajar yaitu gerakan refleks, keterampilan pada gerakan-gerakan dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan-gerakan skill mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretative seperti gerakan ekspresif dan interpretative. Berikut ini Bloom menggambarkan hubungan antara hasil belajar dengan variable/faktor berpengaruh dalam belajar dalam gambar sebagai berikut:
KARAKTERISTIK
SISWA
PEMBELAJARAN
HASIL
BELAJAR
Tingkah laku
Masukan
kognitif Tugas-tugas
Dalam
belajar
Tingkat dan
Jenis
Pengetahuan

Tingkah laku
Masukan afektif
Kecepatan
Belajar

Kualitas
pembelajaran Hasil belajar
afektif

Gambar 2: Variabel atau Faktor-faktor yang
Berpengaruh Dalam Belajar.22 36
Dari gambar tersebut memperlihatkan bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh keadaan kognitif dan afektifnya pada waktu elajar, kualitas pembelajaran yang diterimanya dipengaruhi oleh cara pengelolaan proses interaksi kelas oleh guru. Selain itu digambarkan adanya tiga macam hasil belajar yaitu kognitif (pengetahuan), kecepatan belajar yang ada hubungannya dengan kecepatan belajar individual serta hasil belajar afektif.
Berkaitan dengan hasil belajar yang dikemukakan, Bloom mengklasifikasikan hasil belajar dalam tiga ranah yaitu: ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.
Dalam proses pembelajaran, guru mempunyai peranan yang sangat penting, antara lain guru sebagai administrator, evaluator, konselor dan lain-lain sesuai dengan sepuluh kompetensi yang dimilikinya.23 4 Dalam menjalankan peranannya, guru berusaha membantu siswa agar dapat mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam belajar dan membantu siswa mengatasi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, sehingga tercipta suasana komunikatif edukatif antara guru dan siswa yang mencakup segi kognitif, afektif, psikomotor, agar tercapai tujuan pengajaran.24 5
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran tersebut dapat dikelompokkan dalam dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal faktor internal adalah faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar, meliputi faktor jasmani, faktor psikologis, dan faktor kelelahan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu, meliputi faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.25 6
Faktor waktu sebagai salah satu faktor eksternal mempengaruhi proses pembelajaran yang dalam program pengajaran Bahasa untuk Bidang Studi Bahasa Indonesia, jam belajar tiap minggu adalah dua jam pelajaran, terkadang jam belajar tersebut terganggu oleh kegiatan sekolah, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan dengan lancar. Selain itu jumlah siswa yang besar tiap kelas dengan latar belakang yang berbeda satu sama lain, sehingga mempengaruhi pula proses pembelajaran.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan berbagai usaha, misalnya dengan pemberian tugas tambahan sepulang sekolah. Terutama untuk mata pelajaran bahasa dengan bidang studi bahasa Indonesia, para guru memberikan tugas berstruktur pada siswa, untuk alternatif lain adalah dengan membaca sendiri di luar jam pelajaran atau setelah pulang sekolah bagi siswa yang memiliki minat baca, dengan demikian siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, sehingga mencapai hasil belajar bahasa yang optimal.
Dari kajian teori-teori dan konsep yang dikemukakan di atas, dalam penelitian ini yang dimaksud dengan hasil belajar bahasa Indonesia adalah kemampuan pada ranah kognitif yang dimiliki siswa setelah mengalami prose belajar bahasa Indonesia yang meliputi penguasaan kebahasaan, kemampuan memahami dan kemampuan menggunakan bahasa yang terdiri dari struktur, kosa kata, paragraf dan wacana. Kemampuan tersebut ditunjukkan dengan skor bahasa Indonesia yang diperoleh siswa dalam tes bahasa Indonesia yang dibuat khusus untuk penelitian ini.

B. Strategi Pembelajaran
Kata strategi berarti cara dan seni menggunakan sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu.26 Dalam konteks pembelajaran digunakan strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki sekolah secara optimal.
Sedangkan pembelajaran berati upaya membelajarkan siswa.27 Sejalan dengan itu strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang guru untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir kegiatan belajar.28 Sehingga dapat ditarik kesimpulan strategi pembelajaran adalah kegiatan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran dengan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik sehingga tercapai tujuan pembelajaran.
Akhirnya di sinilah letak pentingnya strategi pembelajaran yaitu menentukan siswa, langkah, dan kegiatan yang perlu dilakukan, sehingga dapat memberi pengalaman belajar kepada peserta didik. Jadi strategi pembelajaran adalah keputusan guru dalam menetapkan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan, sarana dan prasarana yang akan digunakan, termasuk jenis media yang digunakan, materi yang diberikan, dan metodologi yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

C. Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar komunikasi, oleh karena itu belajar bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi. Bahasa sebagai alat komunikasi sangat berperan penting. Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak yang mana obyek-obyek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak.
Adanya simbol bahasa yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia untuk memikirkan sesuatu secara berlanjut. Demikian juga bahasa memberikan kemampuan untuk berpikir secara teratur dan sistematis.291 Dengan Bahasa manusia dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan sikap.302 Bahasa berperan penting dalam perkembangan pikiran anak-anak. Peranan itu terutama ialah memungkinkan berkembangnya pikiran abstrak dan konseptual, serta membentuk dan mendorong perkembangan pikiran, bernalar dan sistematis.31 Bahasa tidak terpisahkan dari manusia dan mengikuti di dalam setiap pekerjaannya, mulai saat bangun pagi-pagi sampai jauh malam waktu ia beristirahat, manusia tidak lepas memakai bahasa.324 Bahasa memungkinkan manusia untuk saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual.
Dengan kemampuan bahasa yang dimilikinya siswa dapat membina berbagai pengetahuan, mengapresiasikan seni, serta mengembangkan diri secara berkelanjutan. Selain itu kemampuan bahasa juga sangat berguna dalam proses pembentukan makhluk biologis menjadi makhluk sosial budaya, pembentukan pribadi menjadi warga Negara, serta untuk memahami dan berpartisipasi dalam proses pembangunan masyarakat.
Suriasumantri menyatakan bahwa fungsi bahasa yang paling dasar adalah menjelma pemikiran konseptual ke dalam dunia kehidupan, kemudian penjelmaan tersebut menjadi landasan untuk suatu perbuatan.335 Dalam hal ini, Heyster dalam Sujanto berpendapat bahwa tiga fungsi bahasa itu, ialah: (a) bahasa sebagai alat pernyataan isi jiwa. (b) bahasa sebagai peresapan (mempengaruhi orang lain) dan (c) bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pendapat.34 6
Mata pelajaran bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia.357 Pembelajaran tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam komunikasi dengan bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis.36 8
Bahasa Indonesia berperan ;[1] Pendidikan ;bahasa Indonesia sebagai alat untuk Meningkatkan taraf pendidikan warga Negara dan [2] Pembangunan ;sebagai alat untuk memobilisasi rakyat untuk membangun, antara lain dengan meningkatkan produktifitas rakyat.37 9
Pada semua lembaga sekolah di Indonesia termasuk di SMP, bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar. Hal ini sesuai dengan salah satu fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga sekolah.38 10
Sesuai dengan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara, maka fungsi mata pelajaran bahasa Indonesia dan sastra Indonesia adalah [1] sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, [2] sarana peningkatan pengetahuaan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, [3] sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, [4] sarana penyebar luasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah, dan (5) sarana pengembangan penalaran.39 11
Bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran pokok di SLTP. Hal ini terbukti dengan banyaknya waktu yang di sediakan dalam pengajaran, yaitu 10 (sepuluh) jam dalam satu minggu. Dengan demikian jatah waktu pengajaran pelajaran bahasa Indonesia lebih banyak dari mata pelajaran lainnya.
Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran wajib di sekolah, merupakan mata pelajaran yang penting bagi para siswa dalam rangka meningkatkan kemampuan berbahasa juga berfungsi dalam menyerap dan mempelajari bidang-bidang ilmu lain, sehingga diharapkan dengan kemampuan pada bahasa Indonesia dapat lebih menguasai ilmu pengetahuan lain.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, komponen kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan secara terpadu. Namun dalam kegiatan pembelajaran guru dapat memfokuskan pada salah satu komponen.40 12
Pembelajaran kebahasaan selalu dikaitkan dengan pemahaman dan penggunaan.413 Bahan pelajaran kebahasaan mencakup lafal, ejaan dan tanda baca, struktur, kosakata, paragraph, dan wacana.4214 Penekanan belajar kosakata, struktur, paragraph, dan wacana bukan pada pembahasan bagian-bagian kalimat, paragraph, atau wacana, melainkan pada pengembangan gagasan melalui hubungan antarkata, dalam kalimat, antar kalimat dalam paragraph, dan antarparagraf menjadi wacana yang utuh. Dengan demikian penekanan belajar tersebut seyogyanya diperhatikan dalam proses belajar bahasa Indonesia, sehingga diharapkan proses belajar dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.



BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian etnografi. Menurut Johson terdapat dua fokus umum studi etnografi yang secara khusus relevan dengan bidang pemerolehan dan pengajaran bahasa (kedua), yautu etnografi pendidikan dan etnografi komunikasi.1
Dalam penelitian ini dipilih yang pertama, yaitu etnografi pendidkikan.

B. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti selain menjadi instrument penelitian juga sebagai partisipan, bersama tiga guru bahasa Indonesia yang bertugas di sekolah tersebut.

C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 189 SSN yang berlokasi di Jl. H. Rausin Kelurahan Kelapa Dua, Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat.

D. Sumber Data
Sumber data diperoleh dari hasil wawancara dengan Kepala sekolah, guru-guru mata pelajaran bahasa Indonesia, dan beberapa siswa yang dipilih secara acak. Selain itu, dari hasil pemeriksaan dokumentasi sekolah dan observasi lapangan oleh peneliti.

E. Prosedur Pengumpulan Data
1. Pengamatan berperan serta (partisipan)
2. Wawancara terbuka.
3. Kajian Dokumentasi dan pustaka
4. Membuat catatan lapangan
5. Membuat rekaman data.
F. Teknik Analisis Data
1. Analisi Domain
2. Analisis Taksonomi
3. Analisis Komponen
4. Analisis Nilai Karakter Budaya Bangsa
G. Pengecekan Keabsahan Data
1. Kredibilitas data melalui:
a. Perpanjangan waktu di lokasi penelitian
b. Melakukan pengamatan secara tekun
c. Menguji secara triangulasi
d. Melakukan pengecekan anggota
e. Melakukan diskusi teman sejawat.
2. Keabsahan Data dibuktikan dengan triangulasi:
a. Triangulasi teknik pengumpulan data
b. Triangulasi sumber data
c. Triangulasi teori
H. Tahap-tahap Penelitian
1. Tahap Persiapan
a. Mempersiapkan logistik prapenelitian
b. Menyusun format-format observasi
c. Menyusun daftar pertanyaan untuk wawancara terbuka
d. Menyusun tabulasi untuk pengecekan dokumentasi
e. Membuat catatan studi prapenelitian
2. Tahap Pelaksanaan
3. Tahap Refleksi
4. Tahap Evaluasi
5. Pelaporan Hasil Penelitian




DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 1997. Politik Bahasa dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Bloom, Benyamin S. 1956. Taxonomy of Education Objectives. New York: A Coommite of College and University Examiners.

Bruner, Jerome S. 1996. Toward a Theory of Instruction (Cambridge: The Belknap Press of Harvard University Press.

_______, 1976. Human Characteristics and School Learning. New York: McGraw-Hill Book Company.

Chaerles M. Reigeluth, 1983. Instructional Design Theories and Models, An Overview of Their Current Status. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc Publishers.

Crow, Lester D. Crow and Alice. 1963. Educational Psychology. New York: American Book Company.

Emzir, 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Edisi Revisi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Gagne, R.M. 1977. The Condion of Learning (New York: Holt Rinehart and Winston.

Hasan, Hamid dan Aziz Wahab, 1986. Evaluasi Hasil Belajar PMP (Jakarta: Karunika UT.

Nana Sudjana, 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Outcomes, Learning. 2001. (http:/ /www.cwis.livjm.ac.uk/umf/vol2/ch2.htm).

Parera, J.D. dan S. Amran Tasai, Pintar Berbahasa Indonesia 2, Petunjuk Guru Bahasa Indonesia, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Kelas 2 Jakarta: Depdikbud, Balai Pustaka.

Sadiman, Arief S. dkk, 1996. Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Samsuri, 1994. Analisis Bahasa, Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta: Erlangga.

Soeharto, Karti. 1995. Teknologi Pembelajaran, Pendekatan Sistem, Konsepsi dan Model SAP, Evaluasi, Sumber Belajar dan Media. Surabaya: SIC Surabaya.

Sujanto, Agus. 1986. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Aksara Baru.

Sukardi, Dewa Ketut. 1992. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Jakarta: Bina Aksara.

Surakhmad, Winarno. 1979. Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito.

Suriasumantri, Jujun S. 1984. Ilmu Dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia.

Suryobroto, 1997. Proses Belajar mengajar dan Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara.

0 komentar: