Sabtu, 14 Mei 2011

Psikolinguistik

Dosen: Dr. H. Ediwarman, M.Pd.
Makalah Tugas Psikolinguistik Oleh Kelompok Mujianto, dkk.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pengajaran bahasa sejak dahulu sampai sekarang lebih didominasi oleh pengetahuan bahasa, bukan memfasilitasi siswa untuk menggunakan bahasa (tindakan bahasa) secara optimal. Ketika duduk di kelas I SMP diajarkan oleh guru pengertian bahasa tradisional, “Bahasa adalah lambang bunyi yang arbitrer”. Sebagai alat komunikasi verbal bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang tidak ada hubungan wajib antara lambang sebagai hal yang menandai yang berwujud kata atau leksem dengan benda atau konsep yang ditandai, yaitu referen dari kata atau leksem tersebut (Abdul Chaer, 1990:1). Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga menyebutkan, “Bahasa adalah lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri”.(Hasan Alwi, dkk., 2002: 88).
Pengertian yang kedua ini lebih mengarah kepada fungsi bahasa atau pemakaian bahasa. Fungsi bahasa selain sebagai alat komunikasi baik secara tertulis maupun lisan, bahasa juga sebagai sarana komunikasi ilmiah. Hal ini berkaitan dengan perubahan bahasa dalam pikiran manusia atau sebaliknya penguasaan bahasa mempengaruhi perubahan pola pikir manusia.
Sebagai sarana komunikasi ilmiah atau bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah. Logika dan matematika mempunyai peranan penting dalam berpikir deduktif sehingga mudah diikuti dan dilacak kembali kebenarannya. Adapun logika dan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir deduktif untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum.
Tanpa bahasa manusia tidak pernah dapat berpikir secara rumit dan abstrak separti apa yang dilakukan orang dalam kegiatan ilmiah. Demikian pula tampa bahasa manusia tidak dapat mengkomunikasikan pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain. Ditegaskan oleh Jujun S. Suriasumantri (2007:173), bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak kemudian objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbul-simbul abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai sesuatu objek tertentu, meskipun objek tersebut secara faktual tidak berada di tempat di mana kegiatan berpikir itu dilakukan.
Oleh karena itu, bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi belaka dalam kehidupan manusia, akan tetapi juga menyertai proses berpikir manusia dalam upaya memahami dunia luar, baik dengan cara nalar objektif maupun secara imajinatif. Itu sebabnya, bahasa selain memiliki fungsi komunikasi juga memiliki fungsi kognitif maupun afektif. Artinya melalui bahas orang dapat memahami sesuatu masalah dan menganalisis serta mengungkapkannya kembali secara ekpresif.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian pengetahuan bahasa?
2. Bagaimana pemakaian bahasa?
3. Bagaimana perubahan bahasa dalam pemikiran manusia atau tindakan bahasa dalam pemikiran manusia?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mngetahui antara lain:
1. Pengertian pengetahuan bahasa,
2. Pemakaian bahasa, dan
3. Perubahan bahasa dalam pemikiran manusia atau tindakan bahasa dalam pemikiran manusia.

D. Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini antara lain
1. Menambah wawasan keilmuan psikolinguistik khususnya dalam pengetahuan bahasa, pemakaian bahasa dan perubahan bahasa dalam pemikiran manusia atau tindakan bahasa dalam pemikiran manusia.
2. Diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dan umumnya bagi masyarakat yang membaca makalah ini.















BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pengetahuan Bahasa
Sebelum diuraikan pengertian pengetahuan bahasa, di sini akan dijelaskan terlebih dahulu pengertian pengetahuan. Pengetahuan adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengetahui tentang sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuannya adalah selalu terdiri atas unsur yang mengetahui dan diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya. Jadi pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek yang dihadapinya, atau hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu.
Semua pengetahuan hanya dikenal dan ada di dalam pemikiran manusia , tanpa pikiran pengetahuan tidak akan eksis. Oleh karena itu, keterkaitan antara pengetahuan dan pikiran merupakan sesuatu yang kodrati. Bahm (dalam Rizal Muntazir dkk., 2001) menyebutkan ada delapan hal penting yang berfungsi membentuk struktur pikiran manusia, yaitu sebagai berikut.
a. Mengamati (observes) ; pikiran berperan dalam mengamati objek-objek. Dalam melaksanakan pengamatan terhadap objek itu maka pikiran haruslah mengandung kesadaran.
b. Menyelidiki (inquires) ; ketertarikan terhadap objek dikondisikan oleh jenis-jenis objek yang tampil. Tenggang waktu atau durasi minat seseorang pada objek itu sangat tergantung pada “daya tariknya”.
c. Percaya (believes) ; manakala suatu objek muncul dalam kesadaran, biasanya objek-objek itu diterima sebagai objek yang nampak. Kata percaya biasanya dilawankan dengan keraguan. Sikap menerima sesuatu yang nampak sebagai pengertian yang memadai setelah keraguan, dinamakan kepercayaan.
d. Hasrat (desires) ; kodrat hasrat ini mencakup kondisi biologis serta psikologis dan interaksi dialektik antara tubuh dan jiwa. Karena pikiran dibutuhkan untuk aktualisasi hasrat, kita dapat mengatakannya sebagai hasrat pikiran. Tanpa pikiran tidak mungkin ada hasrat. Beberapa hasrat juga bisa timbul dari ketertarikan pada tindakan, pengaruh, pengendalian dan ketertarikan pada kesenangan dan dalam melupakan penderitaan, ketertarikan pada kehormatan, pengahargaan, reputasi, dan rasa keamanan.
e. Maksud (intends) ; kendatipun memiliki maksud ketika akan mengobservasi, menyelidiki, mempercayai dan berhasrat, namun sekaligus perasaannya tidak berbeda atau bahkan terdorong ketika melakukannya.
f. Mengatur (organizer); setiap pikiran adalah suatu organisme yang teratur dalam diri seseorang.
g. Menyesuaikan (adapts) ; menyesuaikan pikiran sekaligus melakuakan pembatasan-pembatasan yang dibebankan pada pikiran melalui kondisi keberadaan yang tercakup dalam otak dan tubuh di dalam fisik, biologis, lingkungan sosial dan kultural dan keuntungan yang terlihat dalam tindakan, hasrat, dan kepuasan.
h. Menikmati (enjoys) ; pikiran –pikiran mendatangkan keasyikan. Orang yang asyik dalam menekuni suatu persoalan, ia akan menikmat itu dalam pikirannya.

1. Terjadinya Pengetahuan
Masalah terjadinya pengetahuan adalah masalah yang amat penting dalam epistemologi, sebab jawaban terhadap terjadinya pengetahuan maka seseorang akan berwarna pandangan atau paham filsafat. Jawaban yang paling sederhana tentang terjadinya pengetahuan ini adalah filsafat a priori atau a posteriori. Pengetahuan apriori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau melalui pengalaman, baik pengalaman indra maupun pengalaman batin. Adapun pengetahuan a posteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman.
Sebagai alat untuk mengetahui terjadinya pengetahuan menurut John Hospers dalam bukunya An Introduction to Philosophical Analysis mengemukakan ada enam hal, yaitu sebagai berikut ;


1) Pengalaman Indra (sense experience)
Orang sering merasa pengindraan merupakan alat yang paling vital dalam memperoleh pengetahuan. Memang dalam hidup manusia tampaknya pengindraan adalah satu-satunya alat untuk menyerap segala sesuatu objek yang ada di luar diri manusia. Jadi, pengetahuan berawal mula dari kenyataan yang dapat diindrai. Tokoh pemula dari pandangan ini adalah Aristoteles, yang berpendapat bahwa pengetahuan terjadi bila subjek diubah di bawah pengaruh objek, artinya bentuk-bentuk dari dunia luar meninggalkan bekas-bekas dalam kehidupan batin. Objek masuk dalam diri subjek melalui persepsi indra (sensasi).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengalaman indra merupakan sumber pengetahuan yang berupa alat-alat untuk menangkap objek dari luar diri manusia melalui kekuatan indra. Kekhilafan (humans error) akan terjadi apabila ada ketidaknormalan di antara alat-alat itu.
2) Nalar (Reason)
Nalar adalah salah satu corak berpikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan maksud untuk mendapat pengetahuan baru. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ini adalah tentang asas-asas pemikiran berikut.
Principium identitas, adalah sesuatu itu mesti sama dengan dirinya sendiri (A=A). Asas ini biasa juga disebut asas kesamaan.
Principium Contradictionis, maksudnya bila terdapat dua pendapat yang bertentangan, tidak mungkin kedua-duanya benar dalam waktu yang bersamaan atau dengan kata lain pada subjek yang sama tidak mungkin terdapat dua predikat yang bertentangan pada satu waktu. Asas ini biasa disebut sebagai asas bertentangan.
Principium tertii exclusi, yaitu pada dua pendapat yang berlawanan tidak mungkin keduanya benar dan tidak mungkin keduanya salah. Kebenaran hanya terdapat satu di antara kedua itu, tidak perlu ada pendapat yang ketiga. Asas ini biasa disebut asas tidak adanya kemungkinan ketiga.
3) Otoritas (Authority)
Otoritas adalah kekuasaan yang sah yang dimiliki oleh seseorang dan diakui plek kelompoknya. Otoritas menjadi salah satu sumber pengetahuan, karena kelompoknya memiliki pengetahuan melalui seseorang yang mempunyai kewibawaan dalam pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh melaui otoritas ini biasanya tanpa diuji lagi karena orang yang telah menyampaikannya mempunyai kewibawaan tertentu.
4) Intuisi (Intuition)
Intuisi adalah kemampuan yang ada pada diri manusia yang berupa proses kejiwaan dengan tanpa suatu rangsangan atau stimulus mampu untuk membuat pernyataan yang berupa pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi tidak dapat dibuktikan seketika atau melalui kenyataan, karena pengetahuan ini muncul tanpa adanya pengetahuan lebih dahulu. Dengan demikian sesungguhnya peran intuisi sebagai sumber pengetahuan. Karena intuisi sebagai sumber pengetahuan maka kemampuan yang ada dalam diri manusia yang mampu melahirkan pernyataan-pernyataan berupa pengetahuan tentang apa yang diketahuainya.
5) Wahyu (Revelatoin)
Wahyu adalah berita yang disampaikan oleh Tuhan kepada nabi-Nya untuk kepentingan umatnya. Kita mempunyai pengetahuan melalui wahyu, karena ada kepercayaan tentang sesuatu yang disampaikan itu. Seseorang yang mempunyai pengetahuan melalui wahyu secara dogmatik akan melaksanakan dengan baik. Wahyu dapat dikatakan sebagai salah satu sumber pengetahuan, karena kita mengenal sesuatu dengan melalui kepercayaan kita.
6) Keyakinan (Faith)
Keyakinan adalah suatu kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan. Sesungguhnya antara sumber pengetahuan yang berupa wahyu dan keyakinan ini sangat sukar untuk dibedakan secara jelas, karena keduanya menetapkan bahwa alat lain yang dipergunakannya adalah kepercayaan. Adapun keyakinan murni kemampuan kejiwaan manusia yang merupakan pematangan (maturation) dari kepercayaan. Adapun keyakinan itu sangat statis, kecuali ada bukti-bukti baru yang akurat dan cocok untuk kepercayaannya.

2. Cara Memperoleh Pengetahuan
Cara memperoleh pengetahuan menurut Frenkel (2007) antara lain
1) Pengalaman Perasaan
Pengetahuan perasaan adalah tidak ketergantungan; ini juga tidak sempurna. Data yang kita bawa melalui rasa kita tidak menghitung bagi seluruh (atau bahkan lebih) dari apa yang tampak ke perasaan kita adalah jangkauan dari pengetahuan manusia. Oleh sebab itu, untuk memperoleh pengetahuan yang dapat dipercaya kita tidak dapat mempercayakan pada rasa kita saja, juga harus mengecek apa yang kita pikirkan dan kita ketahui dari sumber lain.
2) Dengan Perjanjian Lain
Salah satu sumber tersebut adalah pendapat orang lain tidak hanya dapat kita berbagi sensasi kita dengan orang lain, kita juga bisa mengecek keakuratan dan keaslian sensasi ini.
3) Pendapat Pakar
Mungkin ada individu tertentu kita harus dengarkan yaitu pendapat ahli di bidangnya, orang yang tahu banyak tentang apa yang kita tertarik untuk mencari tahu. Kita cenderung percaya spesialis jantung mencatat, misalnya, jika ia mengatakan bahwa Paman Charlie memiliki hati yang buruk.

4) Logis
Perhatikan silogisme terkenal: Semua manusia adalah fana. Sally adalah manusia. Oleh karena itu. Sally adalah fana. Untuk menegaskan pernyataan pertama (disebut premis mayor), kita hanya perlu generalisasi dari pengalaman kami tentang kematian individu. Kami tidak pernah mengalami orang yang tidak fana, jadi kita menyatakan bahwa semua umat manusia.
Pernyataan kedua disebut premis minor, didasarkan sepenuhnya pada pengalaman indrawi. Kami bertemu dengan Sally dan mengklasifikasikan dirinya sebagai manusia. Kita tidak harus bergantung pada indera kita, kemudian, untuk mengetahui bahwa pernyataan ketiga (disebut kesimpulan) harus benar. Logika mengatakan kepada kita. Selama dua pernyataan pertama benar, pernyataan ketiga harus benar. Masih ada cara lain untuk mengetahui untuk mempertimbangkan: metode sains.
5) Metode Ilmiah
Apa yang kita tertarik di sini, bagaimana pun adalah ilmu sebagai metode pengetahuan. Ini adalah metode ilmiah yang penting bagi peneliti.
Apakah metode ini? Pada dasarnya melibatkan pengujian ide dalam arena publik. Hampir semua dari kita manusia memiliki kemampuan pembuatan sambungan melihat hubungan dan asosiasi-antara pengalaman informasi sensorik. Sebagian besar dari kita kemudian mengidentifikasi koneksi ini sebagai "fakta"-item pengetahuan tentang dunia tempat kita hidup. Apa yang kita hadapi dengan dugaan hanya tebakan atau firasat, atau sebagai ilmuwan akan mengatakan, hipotesis.
Investigasi tersebut, bagaimanapun, bukan merupakan pengetahuan kecuali mereka dipublikasikan. Ini berarti bahwa semua aspek penyelidikan dijelaskan secara terperinci yang memadai sehingga penelitian ini dapat diulangi oleh siapa pun yang tertarik memiliki kompetensi yang diperlukan dan sumber-sumber yang memadahi.
Tidak ada yang misterius, kemudian, tentang bagaimana ilmuwan bekerja dalam pencarian mereka untuk pengetahuan dapat diandalkan. Pada kenyataannya, banyak dari kita melanjutkan cara ini ketika kita mencoba untuk mencapai suatu keputusan cerdas tentang masalah yang mengganggu pikiran kita.
Dalam konteks ini kaitan pengetahuan dengan bahasa bahwa alat untuk mengetahui dan mengkomunikasikan sesuatu melalui kemahiran berbahasa. Tidak perlu diragukan lagi bahwa berbahasa merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia dalam mencari dan memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya.
Bahasa adalah sebuah sistem artinya bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Ciri dari hakikat bahasa adalah bahwa bahasa itu merupakan sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Sistematis maksudnya bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan.
Sistem bahasa yang digunakan berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi. Setiap ujaran menggunakan lambang bahasa yang berbunyi misalnya kuda ”kuda” melambangkan konsep atau makna tertentu. Dalam bahasa Indonesia satuan bunyi ’’air’’,’’kuda’’ dan ’’meja’’ adalah lambang bunyi ujaran karena memiliki makna, tetapi bunyi bersifat arbitrer, artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya tidak bersifat wajib, bisa berubah dan dapat dijelaskan mengapa lambang itu mengonsepi makna tertentu.
Lambang bunyi bahasa bersifat arbitrer. Artinya, hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah, dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Selain arbitrer, lambang bahasa juga bersifat konvensional. Artinya, setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya.
Bahasa bersifat produktif, artinya, dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas.
Bahasa pun bersifat dinamis, maksudnya, bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan yang terjadi dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantik dan leksikon.Yang tampak jelas biasanya adalah pada tataran leksikon.
Bahasa itu beragam, artinya, meskipun sebuah bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam dalam tatarannya.
Bahasa juga bersifat manusiawi. Artinya, bahasa sebagai alat komunikasi verbal hanya dimiliki manusia. Manusia dalam menguasai bahasa selain secara naluriah dengan menggunakan instingnya, melainkan juga dengan cara belajar.Tanpa belajar manusia tidak akan dapat berbahasa.
Kaitan bahasa dengan pengetahuan bahwa bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah, sedangkan pengetahuan itu berawal dari ”kekaguman” manusia terhadap alam yang dihadapi baik alam besar (macro cosmos) maupun alam kecil (micro cosmos). Rasa kagum terhadap alam yang disertai kodrat manusia sebagai animal rationale dengan hasrat ingin tahunya menyebabkan manusia bertanya-tanya: apa ini, apa itu, mengapa begini, mengapa begitu, bagaimana kejadiannya, apa sebabnya dan bagaimana terhadap apa-apa yang di sekitarnya. Pengetahuan hanya mempunyai kebenaran ilmiah kalau diperoleh melalui kegiatan ilmiah. Artinya, melalui prosedur-prosedur dan teori keilmuan yang memadahi. (Chaer, 2007: 4-7)
Bagi Sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit, sebab seperti yang diungkapkan Fhisman bahwa terhadap yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah ”who speak what languange to whom, when and to what end’’. Dari rumusan Fishman itu dapat dijabarkan manfaat atau kegunaan sosiolinguistik dari kehidupan praktis (Fishman dalam Abdul Chaer dan Leony Agustina, 2004 : 7).
Dari sudut penutur bahasa itu personal atau pribadi. Salah satu fungsi bahasa yaitu alat komunikasi.
Ada tiga komponen yang harus ada dalam komunikasi, yaitu :
1. Pihak yang berkomunikasi, yakni pengirim dan penerima informasi yang dikomunikasikan,disebut partisipan.
2. Informasi yang dikomunikasikan
3. Alat yang digunakan dalam komunikasi itu.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan pengetahuan bahasa adalah segala sesuatu yang dipahami seseorang melalui proses berpikir dan dapat dikomunikasikan kembali baik secara lisan maupun tulisan.


B. Pemakaian Bahasa
Pemakaian bahasa tidak terlepas dari fungsi bahasa yaitu alat interaksi sosial dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau juga perasaan ( Chaer, 2009: 33 ). Dalam hal ini, Wardhaugh ( 1972 ) Seorang pakar linguistik juga mengatakan bahwa fungsi bahasa adalah alat komunikasi manusia, baik lisan maupun tulisan. Namun, fungsi ini sudah mencakup lima fungsi dasar yang menurut Kinneavy disebut fungsi ekspresi, fungsi informasi, fungsi eksplorasi, fungsi persuasi dan fungsi entertainmen.( Michel, 1967:51 ).
Kelima fungsi dasar ini mewadahi konsep bahwa bahasa alat untuk melahirkan ungkapan-ungkapan batin yang ingin disampaikan seorang penutur kepada orang lain. Karena bahasa ini digunakan manusia dalam segala tindak kehidupan, sedangkan perilaku dalam kehidupan itu sangat luas dan beragam, maka fungsi-fungsi bahasa itu bisa menjadi sangat banyak.
Menurut Chaer, (2004:17) ada 3 komponen yang harus ada dalam proses komunikasi, yaitu (1) pihak yang berkomunikasi, (2) informasi yang dikomunikasikan, dan (3) alat yang digunakan dalam komunikasi itu.
Pihak yang terlibat dalam proses komunikasi yaitu sender (orang yang pertama mengirim informasi, dan receiver (orang yang menerima informasi).
Setiap perbuatan memang memberikan informasi yang bisa ditafsirkan sesuai dengan kebiasaan budaya dalam suatu masyarakat. Suatu proses komunikasi memang seringkali tidak dapat berjalan dengan baik karena adanya gangguan atau hambatan. Tiadanya kesadaran dari salah satu pihak partisipan merupakan suatu hambatan. Selain faktor yang lain, misalnya, daya pendengaran yang kurang baik, suara bising di tempat komunikasi berlangsung, atau juga penggunaan bahasa yang kurang baik.

C. Perubahan Bahasa dalam Pemikiran manusia atau Tindakan Bahasa dalam Pemikiran Manusia
Perubahan bahasa lazim diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, entah kaidahnya itu direvisi, kaidahnya menghilang, atau munculnya kaidah baru, dan semuanya itu dapat terjadi pada semua tataran linguistik: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, maupun leksikon.
Pertanyaan yang selalu muncul bila kita berbicara tentang bahasa dan pikiran adalah bagaimana kaitan antara pikiran dan bahasa. Bermacam-macam pertanyaan timbul: Apakah kita memakai pikiran pada saat berbahasa? Dapatkah kita berbahasa tanpa pikiran; atau sebaliknya, dapatkah kita berfikir tanpa bahasa? Apakah bahasa mempengaruhi cara kita berfikir? Ataukah cara kita berfikir menentukan bahasa?
Di dalam kehidupan sosial, setiap manusia tidak lagi dipandang sebagai individu yang terpisah dari yang lainnya. Manusia makhluk yang membutuhkan komunikasi. Dapat dipahami bahwa kegiatan berbahasa merupakan bagian dari tingkah laku sosial. Sebagai tingkah laku sosial, bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor linguistik semata, tetapi juga dipengaruhi faktor-faktor nonlinguistik, seperti status sosial, tingkat pendidikan, jenis kelamin, usia, tingkat ekonomi, dan sebagainya. Di samping itu, bahasa juga dipengaruhi oleh faktor-faktor situasional, yaitu siapa yang mempergunakan bahasa, bentuk bahasa apa yang dipergunakan, kapan bahasa dipergunakan, kepada siapa, di mana, dan untuk masalah apa bahasa dipergunakan.
Bahasa dapat mempengaruhi perilaku manusia, sebagai alat komunikasi, bahasa terdiri dari dua aspek, yaitu aspek lingustik dan nonlinguistik. Kedua aspek ini ’’bekerja sama’’ dalam membangun komunikasi bahasa.
Komunikasi bahasa atau komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai alatnya mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan jenis komunikasi yang lainnya. Kemampuan komunikasi seseorang ternyata juga bervariasi, setidaknya menguasai satu bahasa ibu dengan pelbagai variasi atau ragamnya dan yang lain mungkin menguasai, bahasa ibu, juga sebuah bahasa lain atau lebih, yang diperoleh sebagai hasil pendidikan atau pergaulannya dengan penutur bahasa di luar lingkungannya.
Perubahan bahasa lazim diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, entah kaidahnya direvisi, kaidahnya menghilang, atau munculnya kaidah baru.
Perubahan bahasa yang menjadi pembahasan di sini, adalah bukan perubahan secara terperinci melainkan hanya untuk menunjukkan adanya bukti perubahan. Dalam hal ini, perubahan dan pengembangan bahasa adalah sesuatu yang positif dan menggembirakan. Perubahan bahasa dalam pemikiran manusia ini erat kaitannya dengan norma-norma sosial, dan sistem budaya yang berlaku dalam satu masyarakat.
Menurut Chaer, (2004: 136) perubahan bahasa terjadi pada tataran linguistik di antaranya:
1. Perubahan Fonologi,
2. Perubahan Morfologi,
3. Perubahan Sintaksis,
4. Perubahan Kosakata, dan
5. Perubahan Semantik.
Keperluan suatu bangsa atau negara untuk memiliki sebuah bahasa yang menjadi identitas nasionalnya dan satu bahasa atau lebih, yang menjadi bahasa resmi kenegaraan tidak selalu bisa dipenuhi oleh bahasa atau bahasa-bahasa asli pribumi yang dimiliki. Demikian juga dalam bahasa Indonesia menurut perkembangan sejarah teryata bukan murni dari bahasa pribumi (Melayu Riau) saja. Dalam perkembangannya banyak unsur serapan dari bahasa Arab, Sansekerta dan bahkan dari bahasa Belanda dan Inggris.
Banyaknya unsur istilah asing dengan kaidah berbeda inilah yang mendorong penyeragaman kaidah atau pembakuan bahasa (bahasa standar). Ragam bahasa standar memiliki ciri pertama sifat kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Ciri kedua ialah sifat kecendikiaaan-nya. Perwujudannya dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran, atau pemikiran yang teratur, logis dan masuk akal.
Adapun fungsi bahasa baku mendukung empat fungsi, tiga di antaranya bersifat perlambang atau simbolik, sedangkan yang satu lagi bersifat objektif: (1) fungsi pemersatu, (2) fungsi pemberi kekhasan, (3) fungsi pembawa kewibawaan, dan (4) fungsi sebagai kerangka acuan. (Hasan Alwi, dkk., 2003: 14-15).

















BAB III
SIMPULAN

Berdasarkan uraian pembahasan dalam makalah ini dapat ditarik kesimpulan antara lain:
1. Pengertian pengetahuan bahasa adalah segala pemahaman tentang sistem bunyi sebagai hasil proses berpikir seseorang yang dapat dikomunikasikan kembali baik secara lisan maupun tulisan.
2. Pemakaian bahasa merupakan penerapan dari fungsi bahasa oleh seseorang baik dalam menyerap informasi dari dunia luar maupun mengkomunikasikan tentang sesuatu yang diketahuinya.
3. Perubahan bahasa dalam pemikiran manusia atau tindakan bahasa dalam pemikiran manusia adalah pergeseran bahasa lazim diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, entah kaidahnya direvisi, kaidahnya menghilang, atau munculnya kaidah baru.
Pergeseran yang dimakssudkan bukan perubahan secara terperinci melainkan hanya untuk menunjukkan adanya bukti perubahan. Dalam hal ini, perubahan dan pengembangan bahasa adalah sesuatu yang positif dan menggembirakan. Perubahan bahasa dalam pemikiran manusia ini erat kaitannya dengan norma-norma sosial, dan sistem budaya yang berlaku dalam satu masyarakat. Seperti kata-kata bijak, ”bahasa menunjukkan bangsa”. Artinya penguasaan bahasa atau tutur kata (budi bahasa) atau perangai menunjukkan sifat tabiat seseorang (baik buruk kelakuan menunjukkan tinggi rendah asal atau keturunan).


















DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk., 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Chaer, Abdul dan Eonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

____, 1990. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Fraenkel, Jack R. and Norman E. Wallen. (2007) How to Design and Evaluate Research in Education. McGraw-Hill Inc.

Suherlan, dan Odien R. 2004. Ihwal Ilmu Bahasa dan Cakupannya. Pengantar Memahami Linguistik. Serang: UNTIRTA PRESS.

Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: PT. Pancaranintan Indahgraha.

0 komentar: